Oleh : Bambang Haryanto
Email : wonogirinews (at) yahoo.co.id
Mengunduh duit di Internet !
Sudahkah Anda membaca dan mempraktekkan informasi ini ?
Informasi di atas saya baca dari majalah Intisari edisi Maret 2009. Membacanya di Perpustakaan Daerah Wonogiri. Disebutkan bahwa ada 4 cara untuk memperoleh uang di Internet. Berbisnis mata uang asing (forex), menjual kapling banner di situs atau blog kita, bergabung sebagai tentara semutnya Google dengan aplikasi Adsense dan yang terakhir : personal branding.
Kiat satu dan dua, saya tak bisa cerita. Kiat ketiga, ber-AdSense-ria, membuat saya frustrasi. Beberapa tahun lalu ketika muncul obrolan dahsyat di Internet bahwa kalau punya blog dan tidak ber-AdSense-ria, sepertinya engga gaul, membuat diri saya panas. Mungkin karena eforia atau ganasnya iming-iming duit itu, duit hijau alias dollar, sepertinya membuat ramuan kimia di otak saya berubah. Tiba-tiba di kepala saya muncul monster yang tidak saya kenali, lebih jelek dari Shrek, meraung-raung, meretas semua kerangkeng, dan sepertinya haus darah.
Membuat darah saya mendidih. Dan badan saya panas karenanya.
Saking panasnya, saking bernafsunya, akhirnya membuat tindakan saya jadi grusa-grusu. Saat saya mendaftarkan salah satu blog saya, dan ketika diminta mengklik nama negara asal, saya melakukan kekeliruan fatal. Seharusnya yang saya klik “Indonesia,” tetapi yang kena klik “Irlandia.”
Sharon, Andrea dan Caroline yang merduwati dan jelita-jelita dari The Corrs, kelompok musik favorit saya asal Irlandia, pasti tertawa. Karena ada wong Wonogiri kok mengaku-aku sebagai orang Irlandia. Jelas, aplikasi AdSense saya ditolak.
Bagi saya kemudian, AdSense itu hanya bikin saya trauma. Saya tidak berminat lagi mengambil langkah monetization, monetisasi, penguangan blog saya dengan cara begituan. Paling tidak saat ini. Akhirnya saya putuskan untuk mengelola blog dengan merujuk ajaran dari Susan Gunelius. Artikel inspiratifnya berjudul, Essential Requirements to Starting a Successful Blog How to Become a Top Blogger
Salah satu tipsnya adalah : Anda harus memiliki passion, gairah, rasa ngebet sampai ke ubun-ubun, terhadap sesuatu subjek tertentu. “Kalau Anda tidak memiliki rasa cinta terhadap topik blog Anda, hal itu akan nampak. Pembaca mampu mendeteksi bahwa blogger bersangkutan hanya sekadar lewat dengan lenggang kangkung, anut grubyug, waton mengalir, ketimbang berbicara dari lubuk hati terdalamnya.”
Passion itu memang naik turun. Sebagai blogger yang mengambil ceruk, nieche, seputar surat pembaca, dengan terus saja mengayuh sepeda agar tidak jatuh, alias terus saja menulis dengan cinta, akhirnya kiat keempat, personal branding itu, juga bisa bersinar. Tidak hanya kali ini saja.
Dalam kiat ini kita mendonorkan apa yang kita punya, yang paling terdalam, paling berharga, dan sembari tidak mengharapkan imbalan segera, karena semua itu kita kerjakan dengan sepenuh cinta. Langit pun mencatatnya. Mesin pencari Google mampu sebagai penunjuk jalan agar Anda ditemukan oleh dunia. Sebagai kaum epistoholik di bulan Agustus ini, saya bisa mencatat kejadian istimewa yang bisa Anda klik dari informasi-informasi di bawah ini :
Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah di : http://indonesiabuku.com/?p=1330
Being Digital Sampai Surat Cinta Berabjad Rusia di : http://beha.blogspot.com/2009_08_01_archive.html#8086749577290002777
5 Buku Favorit Presiden Epistoholik Indonesia : di : http://indonesiabuku.com/?p=1346
Kaum Epistoholik Punya 5 Blog Tongkrongan di : http://indonesiabuku.com/?p=1344
Virus Obama Menyebar di Puncak Brengos di : http://indonesiabuku.com/?p=1274
Surat dari Presiden Rakyat Epistoholik di : http://indonesiabuku.com/?p=1294
Itu anugerah bagi kiprah saya sebagai penulis surat pembaca ketika diminta untuk berwisata ke Pacitan. Termasuk bisa menengok Monumen Jenderal Sudirman. Chris Anderson dalam buku dahsyatnya, The Long Tail (2006), pernah bilang : apa pun topik spesialisasi Anda bila terpajang di Internet, Anda akan ditemukan. Itulah yang terjadi.
Saya di Wonogiri, ditemukan, untuk berbicara di Pacitan. Bertemu dengan anak-anak desa Pakisbaru (foto) yang menulis surat dan dibukukan. Mendongengkan semboyan Obama, Yes, We Can, untuk meyakinkan bahwa impian mereka bisa kesampaian. Senang sekali bisa melihat kejaiban saat menemui anak-anak yang bermimpi, dan bercita-cita, dan sekaligus menuliskan semua gegayuhannya itu !
Keajaiban belum berhenti. Pulang dari Pacitan (14/8), tas geret “teroris” saya semakin berat diisi buku-buku. Karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan (ed.), Para Penggila Buku : Seratus Catatan Di Balik Buku (2009), Diana AV Sasa (ed), Kepada Yth : Ibu Negara di Istana Merdeka : 151 Suara Hati dari Anak Puncak Brengos Pacitan (2009), Muhidin M Dahlan, Kabar Buruk Dari Langit (2005, Novel), Muhidin M Dahlan, Adam Hawa : Hawa Bukan Perempuan Pertama (2005, Novel) dan Muhidin M Dahlan, Jalan Sunyi Seorang Penulis (2005). Membaca buku yang terakhir ini, saya seperti melihat cermin, termasuk penderitaan, sweet misery, sebagai seorang penulis honoris causa, penulis yang menguber honor !
Kedua penulis itulah, Diana dan Gus Muh dari Indonesia Buku (www.indonesiabuku.com), yang menghadiahi buku-buku itu. Termasuk hadiah wawasan selama di Pacitan, sebagai menjadi teman baru, tukang kompor (pagi hari di Pacitan dingin sekali, mandinya yang lajim pakai air direbus, tetapi saya mandi tanpa air hangat !), sekaligus teman ngobrol tentang dunia buku. Dilanjutkan di Wonogiri, saat Gus Muh dalam kembalinya ke Yogya, sempat mampir di rumah saya.
Mantra Chris Anderson bertaji lagi. Pulang dari Pacitan, kiprah saya lainnya sebagai blogger, akhirnya juga bisa ditemukan. Bahkan kali ini mampu mempertemukan saya dengan Mas FX Triyas Hadi Prihantoro, salah satu dedengkot EI dari Solo untuk bisa bareng-bareng berdonor pengetahuan untuk tampil di forum diskusi yang diselenggarakan oleh LSM Commitment, Solo, 19 Agustus 2009 yang lalu.
Anda, kalau ada minat dan waktu, bisa melongoki apa yang saya bicarakan di forum itu di : http://epistoholica.blogspot.com/2009/08/sumbu-pendek-ekor-panjang-dan-benturan.html
Sayang, saya tak kebagian kaos dari LSM Commitment itu. Kata Jokowu, belum jadi. Padahal kalau dapat, kan bisa saya ceritakan kaosnya itu kepada dunia melalui blog Every Kaos Tells a Story . Saya pikir, moga saya salah, berapa banyak dari yang memperoleh kaos itu saat berdemo di Gladag mampu dan mau menuliskannya di blog, untuk dilihat seisi dunia ? Berapa banyak yang ikut berdiskusi itu, ketika pulang mau dan mammu mengulas dan mempublikasikannya di blog mereka ?
Mungkin berlebihan, tapi para blogger Solo sepertinya kurang cengkiling, kurang grathil, kurang ringan tangan. Mereka tak mudah tergerak untuk menge-blog-kan segala sesuatu peristiwa yang mereka ikuti. Mungkin pada mereka belum ada kesadaran, bahwa dengan menulis, dengan mem-blog, mereka mengasah intelektual diri mereka sendiri. Kalau pengin tahu lebih lanjut kesaktian hal ini, bacalah bab mengasah gergaji dari buku 7 Habits-nya Covey. Saya rada trenyuh, sebuah portal blog di Solo diam-diam mundur. Dari Web 2.0. untuk kembali ke Web 1.0. karena para bloggernya kehabisan bensin dan berhenti.
Majalah Intisari edisi Maret 2009 memajang artikel berjudul “Mengunduh duit di Internet !“ Sudahkah Anda membaca dan mempraktekkan informasi ini ? Saya membacanya, dan mempraktekkan kiat keempatnya : personal branding. Kalau Anda ingin mengetahui macam apa sejatinya brand diri Anda, silakan buka-buka bukunya David McNally dan Karl D. Speak, Be Your Own Brand : Resep Jitu Meraih Personal Brand Yang Unggul (Gramedia, 2004).
Kalau Anda sudah tahu brand Anda, jadikan tulisan-tulisan di blog Anda sebagai cerminan diri Anda. Merujuk “ilmu silat” dalam dunia komedi, di bawah payung brand unik Anda itu menulislah apa-apa saja yang membuat Anda cemas, apa saja yang membuat Anda takut dan apa saja yang membuat Anda marah.
Pak Khoe Seng Seng dan Prita Mulyasari menulis surat yang dilandasi oleh rasa marah. Sejarah pun mencatat betapa dahsyat dampak dari surat-surat yang telah mereka gurat itu !
Salam episto ergo sum !
Salam dari Wonogiri.
Bambang Haryanto






Memang betul bahwa tidak semua orang hobi ngeblok bertujuan mendapatkan belas kasihan berupa kucuran dollar dari Google Adsense. Ngeblok adalah sarana untuk menuangkan kegelisahan isi pikiran yang kalau kita tulis di surat pembaca media koran belum tentu dimuat.
Nah dengan kita punya blok dengan sendirinya kita mempunyai media pribadi di mana kita sebagai owner,editor sekaligus reporter bebas menuangkannya dalam media blog.
Kalau berkenan kita saling bertukar link Mas? link blog ini akan saya pasang nanti bila sudah difollow. Matur Nuwun? Salam.
Blog saya di http://www.vtrediting.wordpress.com
Menurutku sih kalo pengin nyari duit lewat blog memang harus sabar. Bikin blog baru trus langsung didaftarkan adsense ya mesti saja langsung ditolak.
Mending dibanyakin dulu pengunjungnya.
Nah, kalo aku dulu salah ngisi “indonesia”, dan bukan “english”. Akhirnya gak bisa munculin adsense yang content. Cuma bisa yang search ama feed aja.
Sebenarnya saia masih belajar ngeBlog, yg katanya bisa ngasilin dollar berlimpah… jujur saia masi belum 100% percaya dengan sistem ini, mngkn “hanya” karena saia belum mendapatkan hasil yang nyata dari sistem ini… Malahan saya lebih bisa menikmati keuntungan dari kerja keras saya sebagai Multi Level Marketer.. yang dengan penuh perjuangan menjalin relasi, dan mengompori orang untuk sukses bersama… SALAM SUPER !!!
Makanya bantu saia dunk Om Admin, supaya bs belajar banyak lagi tentang dunia bisnis Internet ini…. tengkyuuu..
bisnis dari ngeblog? ga mesti ikut adsense kalee. Ga semua orang bisa membuat blognya seterkenal blog yang ikut adsense. Kenapa ga ikut paid review aja?jelas hanya mereview artikel, langsung dibayar. Masalahnya kebanyakan untuk ikut paid review, paling ga blog kita harus berbahasa inggrs. Tapi itu dulu….sekarang, blog dengan bhs Indo saja bisa kok ikutan…
Untuk reviewnya?emang sih pake bahsa inggris, ya tapi kan udah ada google translate, jadi gampang nerjemahin. Tulis aja review ke dalam bhs indo dulu, baru ke inggris. Gampang kan nyari duit?
emang sih, pusing kalo kita cuma mikir teori doang, yang enak sih langsung praktek, ya ga?yang jelas, dari paid review saja, ga mustahil kok kita dapat $50 – $200 per bulan, tergantung kerja keras kita. YAng jelas, kita harus lebih produktif menulis, dan berkarya, jangan malas,karena malas hanya untuk orang mampet daya pikirnya. Gt aja yach tanggapan singkat saya. Buat yang mau sohiban, kontak saya di romdhonit@yahoo.com
Selamat berkarya !!
mas,kalo berkenan saya mau tukeran link,biar blog saya jd terkenal,soalnya blog sya masih baru banget.thanks..salam wonogiri sukses.