Hari Lebaran adalah magnet yang menggerakkan jutaan manusia untuk pulang mudik, yang penuh warna suka dan duka. Ritus kembali ke akar itu konon menyehatkan nurani pelakunya yang mencoba menemukan oasis di daerah asalnya sebagai bekal mengarungi kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Jangan lupa, mudiknya mereka juga berdampak ekonomi. Uang dari kota menjadi beredar di desa-desa.
Merujuk fenomena positif itu telah menimbulkan gagasan : bagaimana kalau mudiknya jutaan kaum mboro itu dirancang mampu menggoreskan sentuhan yang berdimensi intelektual yang berguna, juga awet, bagi warga daerah asalnya ? Ringkas kata : mereka dihimbau membawa buku-buku untuk disumbangkan ke perpustakaan di daerahnya. Baik perpustakaan sekolahnya dulu, atau perpustakaan umum di kotanya.
Sekadar ilustrasi, tahun 2006 lalu disebutkan terdapat 119.000 pemudik masuk Solo. Kalau satu persen dari pemudik itu menyumbangkan buku, akan terhimpun 1.190 koleksi buku baru untuk perpustakaan di Solo. Kalau satu buku seharga Rp. 25.000,00, sumbangan itu senilai hampir 30 juta rupiah. Banyak. Di kota saya Wonogiri, itu anggaran perpustakaan satu tahun.
Gerakan mudik bersedekah buku ini sebaiknya juga berusaha dikobarkan ke dada anak cucu, keturunan kaum mboro itu, sehingga mereka diharapkan memiliki ikatan batin dengan anak-anak segenerasinya yang tinggal di desa atau kota kecil tempat ayah-ibu atau kakek-neneknya berasal, yang mungkin tidak seberuntung kehidupan yang ia jalani di kota.
Mungkin sedekah unik ini tidak hanya buku, bisa saja berupa komputer atau laptop, baru atau bekas, yang terbeli secara patungan. Gagasan sederhana ini terbuka untuk diperkaya sejauh imajinasi pembaca.
Untuk sesama warga Epistoholik Indonesia, dan warga Wonogiri di mana pun Anda berada, mohon kampanye ini digencarkan sepanjang Ramadhan ini demi makmurnya perpustakaan dan mekarnya olah intelektualitas di kota-kota Anda.
Bambang Haryanto
(+6281329306300)
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri
Warga Epistoholik Indonesia
Email : humorliner (at) yahoo.com




7 tanggapan so far ↓
goncecs // September 11, 2008 pada 12:22 pm |
ide bagus mas !!
saya lbaran juga ke wonogiri lhoo
regsa // September 12, 2008 pada 3:45 pm |
Ide bagus mas dan sangat kreatip . Dan rasanya buku merupakan ‘oleh-oleh” yang lebih berguna dibandingkan kue ato sejenisnya .
Mudah2an saya bisa balek wonogiri.. lah hubungane
Kanjeng Sinuwun // September 12, 2008 pada 6:15 pm |
Sangat mendukung, Mas. Terutama bagaimana membudayakan membaca anak-anak Wonogiri. Lebaran…bali ah!
emi // September 14, 2008 pada 3:42 pm |
boleh tuh idenya…..coba ada yg mandegani, sampah orang lain bisa jadi harta buat orang yg membutuhkan ( kata pepatah….)
masato // September 17, 2008 pada 7:20 am |
wah…bagus nih, biar wonogiri jd maju.
tapi, kok ga da komunitas IT di wonogiri ya?
BH // September 25, 2008 pada 4:38 am |
Dear Masato, saya kira komunitas itu ada kok. Mari kita tambah dengan diri-diri kita ini. Silakan kontak via email atau HP. Saya tunggu.
Untuk Arista,
Emailmu belum ada tuh ? Sudahlah. Aku sudah kopi itu info dari humormall.com.
Salam untuk sobat-sobat baru di blog ini.
jiwo // September 28, 2008 pada 2:34 am |
bagus, perlu dikembangkan.
mau menengok desaku, klik di sini : http://www.flickr.com/photos/desapogog/
salam desa
jiwo