entah1982

Aku Rindu Ramadhan Di desa

In wonogiri on Agustus 30, 2008 at 12:26 pm

2 Hari lagi bulan yang lebih mulia dari 1000 bulan itu akan hadir. Bulan dimana pahala ibadah sunah akan diberi pahala sebagaimana ibadah wajib. Sebuah perniagaan yang jelas sangat merindukan. Setelah 11 bulan kita terus menerus sibuk mencari sesuatu yang mungkin sesungguhnya tidak kita bawa nantinya. Dan kiranya satu bulan cukup untuk sedikit menghela nafas, sedikit keluar dari pusaran riuh rendah dunia, sedikit ngaso sejenak dari jeratan jeratan kehidupan yang menghalalkan segala cara. Raup (cuci muka) air ramadhan mungkin bisa membuat kita yang selama ini salah (baik tahu kalau dirinya sedang salah, ataupun tidak tahu / merasa dirinya sedang salah) yang kita punya bisa berganti dengan kebenaran yang dilahirkan di hari hari Idul fitri nanti.

Merindukan Ramadhan dengan citra rasa Gumiwang

Ramadhan di desaku Gumiwang Lor (desa terbesar di kecamatan wuryantoro) mungkin tidak jauh berbeda dengan ramadhan di wilayah para rekan rekan di wonogiri yang lain. Penuh keceriaan, tarawih yang selalu penuh di awal dan diakhir saja tetapi melompong ketika memasuki pertengahan bulan. Petasan plus Long Bumbung (bambu) mengiringi disetiap waktu, apalagi menjelang Idul Fitri. Dan yang mungkin tidak bisa aku lupakan Ritus jalan pagi sesudah sholat shubuh. Setidaknya saya melakukan apa yang pak BH lakukan setiap hari. The morning Walker demikian pak BH menyebutnya. Bahkan tak jarang di ritus jalan pagi sesudah shubuh itu buat mereka para anak muda dijadikan ajang untuk tebar pesona. Atau istilah kerennya Asmara Shubuh. (semoga tidak berkurang pahala kami ya Allah).

Sebenarnya di sini (tangerang) kebanyakan anak mudanya juga seperti itu. Akan tetapi aura magis udara penghijauan sepanjang jalan yang kita lewati masih lebih menarik dari riuh rendahnya suara kendaraan yang tak pernah berhenti berlalu lalang. Di gumiwang Masjid Terletak di ujung barat kampung. Sedangkan rumah saya berada di ujung timur kampung. Sesudah di pojok masjid terdapat lapangan Sepakbola gumiwang. Melewati lapangan terdapat jembatan. Duren Sewu namanya. Dengan segala mitos keangkeran dan keanehannya. Kita biasa melewati 2 jam setelah shubuh itu diatas jembatan itu. Ada yang bermain petasan atau sekedar duduk duduk sambil melihat rekan kita yang sedang memancing menuai hasil tangkapannya.

Ritus jalan pagi ini sudah saya tinggalkan sejak saya mulai sekolah di STM N 1 Solo karena memang butuh waktu minimal 2 jam untuk menempuh Gumiwang Solo waktu itu. Jadi ketika kawan kawan saya melakukan ritual tahunannya maka saya harus segera berkemas untuk memulai studi ke solo. Setidaknya 11 tahun saya tidak melakukan ritus jalan pagi itu.

Demikian sekelumit cerita tentang ramadhan saya. Di tunggu ceritanya dari rekan rekan BLOWN yang lain.

Berikut saya sertakan topografi desa saya dari Google Map.

Terlihat kalau memang masih dilingkupi dengan kesejukan pepohonan

  1. maaf picnya kepotong.. kalau mau lihat full .. klik kanan di PHoto trus pilih View Images.. nuwun

  2. Kangen ? Yo mulih toh, terus mangan bubur lemu.

  3. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  4. suasana puasa dan lebaran dikampung halaman emang beda mas.. lebih nendang cita rasanya :)

  5. saya wong ndeso pinggir Yogya, ceritanya ada mirip ada beda dgn tempat saya :) salam kenal